Keadaan ini membuatku
mengerti. Mengerti akan keikhlasan mencintai tanpa memiliki. Apa yang pernah
aku katakan padamu saat itu? Apakah kamu masih ingat? Jika kamu ingat, seperti
itulah perasaanku saat ini terhadapmu. Tak ada yang berubah. Hanya saja aku berusaha
membentengi hati. Agar aku tidak terlalu jauh melangkah di dalam relung hati
yang telah kubangun khusus untukmu. Aku tidak mau menyusurinya terlalu jauh.
Aku takut tidak sanggup akan apa yang nantinya bisa terjadi diantara kita. Aku
beranggapan kalau kisah kita pastinya akan berakhir pahit dan rumit. Benteng
yang ada diantara kita bukanlah benteng biasa. Bukanlah benteng yang terbuat
dari beton dan bisa saja dihancurkan oleh serangan bom. Benteng ini terlalu
kuat untuk diruntuhkan. Akan butuh perjuangan dan pengorbanan besar untuk
meruntuhkan benteng yang ada diantara kita. Namun, aku hanya berusaha
menempatkan diri. Aku tidak ingin menaruh harapan yang begitu besar kepadamu.
Pemikiranku cukup panjang untuk melakukan itu.
Kini, aku hanya ingin kamu memahami satu hal. Segala sikapku
terhadapmu saat ini bukanlah didasarkan rasa ingin memilikimu. Aku hanya ingin
kamu melihatku sebagai seseorang yang akan berusaha selalu ada untukmu. Aku tak
mungkin mengungkapkan hal ini secara langsung. Namun, aku harap kamu dapat
menyadarinya secara tersirat. Kuharap hatimu masih berfungsi untuk merasakan
kasih sayang yang tulus ini. kurasa sudah tidak perlu aku bicara padamu tentang
apa yang aku rasakan seperti yang sebelumnya. Karena saat ini aku berusaha
untuk ikhlas. Ikhlas untuk menyadari bahwa rasa yang kumiliki tak akan pernah
terwujud seperti apa yang aku harapkan. Ikhlas untuk menyanyangimu tanpa
berharap mendapatkan apapun dari dirimu.